Kamis, 05 Januari 2017

Sebuah Pesan yang Amanah?



Sebuah Pesan yang Amanah?
Pada malam indah tanpa sinar sang dewi malam aku tersadar dari mimpi burukku entah mimpi apa itu? Tak pernah aku tahu apa artinya?
Dengan sedikit gemetaran serta setetes airmata, aku mulai membisu tak bisa berkata-kata bagaikan batu karang dihempas ombak yang ganas tanpa ampun. Namun, apa hendak dikata? Alam mulai melampiaskan amarahnya. Laksana laskar bintang yang bersatu menyinari dan melawan satu sinar rembulan namun tak pernah bisa.
Wah… cerita apaan nih? Seputar mimpi menjelajah angkasa raya. Oh, bukan itu tapi… Nah, ini dia ceritanya!!!
Saat sepi sendiri disebuah ruang hampa aku membungkukkan badan ketika melihat selembar kehidupan kala itu.
Mungkin kalian bertanya-tanya apa itu selembar kehidupan?
Untuk seorang anak rantau seperti aku yang menempuh studi di negeri orang, selembar kehidupan itu sangatlah berarti apalagi jika tepat pada tanggal tua. Wah, mukjizat deh pokoknya. Selembaran itu adalah uang lima ribuan entah siapa yang punya tiada yang tau.
Yah, karena gak dikasih tau siapa yang akan tau coba. Hahaha
Selembaran dengan nilai segitu tadi bisa untuk menunjang kehidupan satu hari meskipun cuma makan sekali dalam sehari tapi itu sangat aku syukuri, bagaimanapun juga selembaran itu tadi adalah suatu jalan dari Tuhan untukku melepas laparnya perut kala itu.
Gak banyak nuntut, tapi ayahku diseberang lautan sana memberi sebuah pesan:
“Nak, jangan telat makan. Makanlah tiga kali sehari. Kalau kamu kurus ketika pulang kampung nanti berarti kamu makan tidak teratur. Nah, kalau gitu uang bulanan kamu siap-siap ayah potong.”
Wah, itu sih aku pikir mustahil. Wong aku aja makan sekali dalam sehari karena kekurangan uang bulanan. Ah, ayah gak adil ah. Kalau aku kurus ya ditambah dong masa dipotong tuh berartikan aku kekurangan uang bulanan.
Tidak cuma itu guys, Mama aku juga memberi sebuah pesan tapi gak separah ayahku tadi, beliau cuma bilang “mama gak mau kamu liat kamu rambutnya gondrong.”
Nah, itu sih mudah aku turuti tapi coba kalau aku langgar dua-duanya. Hmmm berabe deh pokoknya.
Tapi itu adalah sebuah hal yang harus aku taat dan patuhi, karena apa?
Karena kedua hal itu adalah tanggung jawab aku untuk menjaga amanah serta belajar untuk mengatur segala keuangan, waktu, dan diri sendiri agar aku bisa menjadi pribadi yang mandiri, tekun, dan bisa memanage keadaan, apapun itu.
Sebuah pesan moralnya adalah Patuhi amanah orang tua mu, jangan pernah melanggar amanah itu karena setiap hal yang mereka tuntut dari anaknya adalah hal baik yang terjadi kelak.
Pesan pertama sudah dapat, pesan kedua apapun tuntutannya adalah tanggung jawab untuk anaknya jadi HARGAI itu.

Harapan Baru Dan Makna Cinta



Harapan Baru Dan Makna Cinta
1 Januari 2017… kubuka lembaran baru lalu kutulis serangkaian kata demi kata, dengan sejuta mimpi mulai kurajut diatas kertas. Sebuah harapan baru telah terlampir.
Tertulis pula kisah-kisah baru yang akan kuceritakan pada dunia kelak, kepada mereka: anak, cucu, dan generasiku.
Hingga hati bertanya pada Dunia, “Mengapa Harapku tak kunjug datang?”
Sempat juga aku bertanya pada Tuhan “Adakah satu kesempatan untukku jatuh cinta?”
Aku percaya suatu mukjizat itu ada, tapi adakala nya aku ragu. Karena tidak tau dengan sebuah saksi bisu. Saksi bisu??? Apa itu saksi bisu?.
Sebuah waktu merupakan saksi bisu, setiap saat menyaksikan yang terjadi tapi tak bisa berkata apalagi membela suatu hati yang luka. Aku berdiri dan berjalan menyusuri tepian luka lama hingga bisa menutupinya dengan setumpuk Batu Ketegaran dan segenggam Tanah Keikhlasan.
 Bah… kata-kata yang hanya bisa menutupi Kata Hati yang lugu hingga tersusun sebuah kalimat lesu yang tak bertenaga, Kalimat kosong tanpa makna. Namun, sebuah kepastian tiba pada ujung penantian. Menyongsong tahun Baru aku mulai bangkit dan tanamkan kembali sebuah mimpi yang kelak bisa mewujudkan mimpi itu.
Tanpa sadar aku mulai menyaksikan Masa Depan yang jelas terlihat. Melihat sedikit pelangi harapan yang menantiku itu. Aku ingin menciptakan sebuah karya, sehingga dunia bisa tahu siapa aku tanpa harus tahu bagaimana pengorbananku. Mengiringi sebuah harapan baru itu, aku tahu Doa orangtuaku selalu menyertai setiap langkah dan jalanku agar aku tidak jatuh dalam jurang dan jeruji kesengsaraan.
Aku ingin seribu dari sejuta mimpi itu berhasil hingga aku bisa membayar sedikit usaha orangtuaku. Satu diantaranya yang harus terwujud olehku, aku bisa membasuh keringat ayahku ketika melepas penat. Dan menyeka airmata seorang bunda dihari tuanya ketika mengingat kecongkakan dan kesombongan dunia pada masa mudanya. Nol koma sekian persen itulah nilainya pengorbananku. Sejauh mana pun aku berjalan, sepanjang waktu pun aku menyusuri tepian jurang kehidupan tidak akan pernah bisa aku aku membalas cinta kasih dari mereka. Hingga aku tersadar oleh sebuah kalimat tiada cinta yang lebih mulia dari pada cinta orangtua kepada anaknya.
Hingga akhirnya aku menemukan harapan itu dan mengerti arti sebuah CINTA yang sebenarnya. Terima Kasih Ayah, Terima Kasih ibu sehingga aku tahu sekarang DIA bukanlah sebuah harapan yang kudambakan dan kukejar.

Cerpen Kisah Mengubah Pribadi



Kisah Mengubah Pribadi
Angin malam mulai menusuk tulang, namun tulang tak pernah rapuh oleh malam kalbu kala itu.
Tepat tanggal 2 November  2016 aku telah merasakan aura CINTA dari hatinya ya sebut saja Rahma. Aku tau rasa itu tumbuh, namun ragu ditanah mana dia akan subur. Manakala saat itu hati sudah terlanjur jatuh tapi tidak pada tempatnya.
Wah kayak sampah aja, hehe.
Seputar lingkungan hati, sepanjang jalan kasih. Wow suatu kalimat yang indah, hmmm. Jadi ketika itu sebuah cerita telah terlampir dalam dokumen rahasia dalam ruang hati. Aku terharap karena hati terlalu lugu kala itu, mudah aku keluar segalanya untuk dia yang sempat singgah dihati ini. Apa kata hati? Aku suka dia. Ya aku akui itu, begitulah adanya, tapi hati juga berkata, dia suka aku. Bodoh, ya itulah harapan bodoh hatiku.
Wah, wah, wah dari tadi ceritanya itu-itu aja. Nah, ini kelanjutannya….
Aku menyukai teman organisasiku, hingga aku sangat mengharapkannya. Suatu hari aku dapati dia sangat mempedulikanku. Itu kukira hanya sebuah Cover pertemanannya tapi disisi lain aku merasa dia suka aku, bodoh ya? Gak ada kejelasan hingga akhirnya aku menunggu sebuah momen agar aku bisa menyatakan rasa itu.
Momen, momen, dan momen semua berlalu dan tiba hingga terukir sebuah sejarah dimana peradaban hati telah pudar.
Dua puluh enam hari setelah itu aku ikut diklat organisasi itu, ya sama dia juga sih. Aku sangat bahagia pergi bareng dia meskipun Cuma naik Angkutan Kota (Angkot) tapi disitu aku rasa sebuah bunga mulai tertanam. Setiba di tempat tujuan sebut saja tempatnya Coban Jangkrik, hahaha ada-ada aja. Aku juga melihat sebuah harapan dimatanya.
Tapi semua itu hanya berlalu sementara, aku terlalu terpaku pada persepsi tentang sebuah keegoisan  yang aku lakukan adalah sebuah Cover saja. Tapi mereka, Dia menganggap itu sebuah hal konyol yang memalukan. Aku tau itu tapi tetap pertahankan keegoisan itu. Hingga akhirnya aku dijauhkan dan dianggap sebagai teman yang malu-maluin tidak lebih. Namun dibalik itu aku mulai sadar bahwa suatu cover yang kubangun itu adalah sebuah kesalahan fatal. Ibaratkan sebuah buku jika tidak menarik dan terlalu buruk dari covernya gak bakalan ada yang membacanya, adapun hanya orang-orang yang ingin tahu dan  ingin mengubah sebuah cover itu yang membaca isi sehingga tercipta sebuah cover yang indah. Dengan sebuah senyum pahit dia memandangku sebelah mata. Tapi itulah aku, jika tidak mengalami semua itu aku tidak mungkin berubah dan tidak mungkin pula aku tau harapan teman-teman organisasi lain terhadapku. Terima kasih semua pelajaran dan harapan ini adalah sebuah kenangan indah sebelum menyambut natalan 25 Desember 2016. Dan memori hidup yang akan abadi tersimpan dalam lampiran kisahku selama hidup.
                                                                                                                                                     Lainnya⏩